Sejarah Shibyanul Muslimin Hasana
Madrasah Shibyanul Muslimin Hasana berawal dari sebuah pengajian kaum ibu yang diadakan di teras Masjid Al-Mustaqim pada tahun 1969.
Pengajian tersebut menjadi wadah belajar agama bagi para ibu, dan seiring waktu, timbul keinginan mulia untuk turut mendidik anak-anak mereka di tempat yang sama. Meskipun dengan kondisi seadanya, berada di teras masjid yang sering terkena tampias hujan bahkan banjir, semangat belajar tidak pernah surut.
Semangat para ibu ini kemudian berkembang menjadi sebuah Majelis Taklim. Jumlah anak yang ikut belajar pun terus bertambah, hingga mencapai 27 murid yang dibagi dalam dua kelompok kelas.
Melihat kebutuhan tersebut, dua orang dermawan yaitu Hasan Basri dan Suryana mewakafkan sebidang tanah di depan Masjid Al-Mustaqim sebagai lokasi pembangunan madrasah.
Dengan semangat gotong royong, para pemuda membersihkan lahan hingga berdirilah bangunan sederhana bernama Madrasah Hidayatul Anwar, dengan tiga ruang kelas dan satu ruang guru.
Pada tahun 1981, madrasah ini berganti nama menjadi Madrasah Al-Mustaqim sebagai bentuk penghormatan atas komitmen masyarakat terhadap pendidikan agama.
Demi menjaga keberlanjutan dan legalitas lembaga, pada tahun 1994 dilakukan pencatatan akta notaris yang mengharuskan perubahan nama menjadi Madrasah Shibyanul Muslimin Hasana. Nama ini resmi diakui negara melalui SK Kemenkumham RI Tahun 2021.
Saat ini, Shibyanul Muslimin Hasana menyelenggarakan pendidikan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Raudhatul Athfal (RA), sebagai wujud komitmen membentuk generasi Islami yang berakhlak mulia.